Filsafat dan Ilmu Pegetahuan

1. Hakikat iIlmu Pengetahuan

Istilah ilmu pegetahuan diambil dari bahasa arab; “alima, ya’lamu, ‘ilman” yang berarti mengerti atau memahami benar-benar. Dalam bahasa inggris  istilah ilmu berasal dari kata science, yang berasala dari bahasa latin scienta dari bentuk kata kerja scire, yang berarti mempelajari  dan mengetahui. Istilah ilmu dan sains menurut Mulyadi Kartanegara (2003:1) tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampaui pada bidang-bidang nonfisik seperti metafisika.

Menurut The Liang Gie (1996:88) ilmu sebagai pengetahuan, aktifitas, atau metode merupaka satu kesatuan yang saling berkaitan. Ilmu adalah serangkaian aktivitas manusia yang dilaksanakan dengan metode tertentu, yang akhirnya aktivitas metodis itu menghasilkan pengetahuan ilmiah. Menurut W. Atmojo (1998:324) ilmu ialah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.

Menurut Sumarna (2006:153) ilmu dihasilkan dari pengetahuan ilmiah, yang berangkat dari perpaduan proses berpikir deduktif (rasional) dan nduktif (empiris). Jadi, proses berpikir inilah yang membedakan antara ilmu dan pengetahuan.

Menurut Surajiyo (2007:62), pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya. Namun, manusia tidak dapat menuntut bahwa memperoleh sesuatu itu berarti sudah jelas kebenarannya, karena boleh jadi hanya kebetulan saja.

Secara khusus, Suparlan Suhartono (2005:84) mengemukakan tentang perbedaan makna antara ilmu dan pengetahuan. Dengan mengambil rujukan dari Webster’s Dictionary, Suparlan menjelaskan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari-sehari melalui pengalaman-pengalaman, kesadaran, informasi, dsb. Sedangkan ilmu di dalamanya terkandung pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematis, metodis, ilmiah dan mencakup kebenaran umum mengenai objek studi yang lebih berdifat fisis (natural).

Kehadiran ilmu dan pengetahuan  hendaknya tidak boleh dipisahkan karena sama pentingnya bagi kehidupan. Ilmu membentuk daya intelegensia, yang melahirkan adanya skill yang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan seharihari. Sedangkan pengetahuan membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian melahirkan tingkah laku kehidupan manusia.

Karena hal inilah, manusia terus melakukan pengembangan pengetahuan untuk memperoleh kenikmatana, kesenangan, kemudahan dan kebahguaan dengan inovasi yang dilakukan  manusia yang kemudian berusaha memecahkan maslah yang terjadi di lingkungannya dan mengembangkan kerangka berpikir tertentu untuk menghasilkan ilmu.

2. Objek Ilmu Pengetahuan

Salah satu cirri dari ilmu adalah bahwa ilmu itu memiliki objek penyelidikan, yang terdiri dari dua objek: objek material dan objek formal. Objek material adalah suatu hal yang menjadi sasaran peneyelidikan atau pemikiran sesuatu yang dipelajari, baik berupa benda konkret maupun abstrak. Pertama, objek material yang bersifat konkret adalah objek yang secara fisik dapat terlihat dan terasa oleh alat peraba. Contoh: anjing, kucng, pohon, batu, air, tanah, dsb. Kedua, yang bersifat abstrak misalnya niai-nlai, ide-ide, paham, aliran, dsb.

Sedangkan objek formal merupakan sudut pandang atau cara memandang terhadap objek material, termasuk prinsip-prinsip yang digunakan. Dalam hal ini hakikat, esensi dari objek materiilnya yang menjadi objek formal filsafat.

3. Kehadiran Filsafat sebagai Ilmu Pengetahuan

Sudah dikenal sejak lama bahwa filsafat adalah induk dari segala macam ilmu pengetahuan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan pada mulanya hanya ada satu yaitu filsafat. Akan tetapi, Karena filsafat bersifat umum, abstrak dan universal, filsafat tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidup yang bersifat konkret, praktis dan pragmatis. Oleh karena itu muncullah berbagai jenis ilmu pengetahuan khusus dengan objek studi yang berbeda-beda.

Sebagai induk ilmu pengetahuan, ruang lingkup studi filsafat mencakup semua hal yang ada menurut aspeknya yang mendasar berupa sifat hakikat atau subtansinya.

4. Persyaratan Ilmu Pengetahuan

C.A. Qadir (2002:20) memberikan tiga hal pokok yang menjadi persyaratan ilmu pengetahuan, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengakuan atas kenyataan bahwa setiap manusia, terlepas dari kasta, kepercayaan, jenis kelamin atau usia, mempunyai hak yang tidak dapat diganggu gugat atau dipersoalkan lagi untuk mencari ilmu.
  2. Metode ilmiah itu tidak hanya pengamatan atau eksperimentasi, tetapi juga teori dan sistematisasi. Ilmu pengetahuan mengamati factor-faktor, mengklasifikasikannya, menunjukan hubungan-hubungannya, dan menggunakanya sebagai dasar untuk menyusun teori.
  3. Semua orang harus mengakui bahwa ilmu pengetahuan berguna dan berarti untuk individu maupun social.

Dengan landasan perspektif islam, C.A. Qadir menjelaskan persyaratan ilmu pengetahuan menurut dimensi islam. Pertama, mengenai persyaratan ilmu tentang persamaan hak dalam mencari ilmu. Dalam khzanah islam setiap muslim diwajibkan untuk mencari ilmu tanpa mempersoalkan jenis kelamin, semua orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, agar terus belajar selama hidupnya.

Kedua, mengenai persyaratan ilmu yang bekenaan dengan pengamatan. Dapat disaksikan  bahwa manusia sejak awal sudah mulai mengamati terbit tenggelamnya matahari, silih bergantinya siang dan malam, perubahan musim, dsb. Pernyataan ini dapat diperkuat dengan landasan Al-Qur’an yang terdapat pada beberapa surat seperti Q.S. 2:164, Q.S. 6:95, Q.S. 13:4-5.

Ketiga, mengenai persyaratan pentingnya pengetahuan ilmiah dan kesahihan pengalaman indrawi. Sejalan dengan persyaratan kedua, di mana Al-Qur’an menganjurkan pentingnya menafsirkan fenomena-fenomena alam yang terjadi ke dalam sebuah kesimpulan atau teori, dan menganalisis semua peristiwa yang dapat disaksikan untuk dipikirkan, maka pada persyaratan ketiga ini Al-Qur’an menganjurkan pembacanya agar alam semesta ini diteliti dengan seksama untuk menyingkap rahasia-rahasianya.

Selanjutnya berkenaan denga persyaratan ilmu pengetahuan, Suparlan (2005:85) menjelaskan bahwa yang dapat dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan harus tercantunm di dalam beberapa poin yang bersama-sama menetukan bagi adanya ilmu pengetahuan, yaitu meliputi objek, metode, system dan kebenaran.

5. Eksistensi Ilmu Pengetahuan

Cara yang dipakai untuk menjelaskan identitas ilmu pengetahuan menjadi jelas dengan menyoroti empat poin, yaitu objek, metode, system dan kebenaran.

a. Objek Ilmu Pengetahuan

Objek adalah pokok atau tujuan menyelidiki keilmuan, baik objek materil dan formal. Sasaran pokok penyelidikan objek materil ini berupa materi yang dihadirkan dalam suatu pemikiran atau penelitian. Sedangkan yang terkandung sidalamnya bisa saja berupa benda-benda meteril atau benda nonmateril.

Sedangkan objek formal merupakan objek yang akan menjelaskan pentingnnya arti, posisi dan fungsi objek di dalam ilmu pngetahun. Dengan objek formal ini akan ditentukan suatu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Selanjutnya ia mnentukan jenis ilmu pengetahuan yang tergolong bidang studi apa dan sifat ilmu pengetahuan yang tergolong kuantitatif atau kualitatif.

b. Metode ilmu pengetahuan

Metode adalah suatu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar. metode merupakan cara-cara penyelidikan yang bersifat keilmuan, yang sering disebut metode ilmiah (scientific methods).

Kata metode ini berasal dari bahas yunani, “methodos” berarti ‘jalan’, ‘cara’, ‘arah’. Metode dapat pula diartikan cara bertindak menurut aturantertentu dengan tujuan agar aktifitas dapat terlaksana secara rasional dan terarah supaya dapat mencapai hasil sebaik-baiknya.

Dalam ilmu metode penelitian (research) alat untuk menyelidiki atau mengumpulkan informasi data dan hal-hal yang diperlukan bagi sipeneliti dapat dilakukan beberapa cara, antara lain dengan, observasi (pengamatan), kuesioner(angket), interview (tanya-jawab), dan lain-lain yang secara keseluruhan lebih mengarah kepada metode statistic, yang berupa perhitungan-perhitungan angka secara generalisasi yang pada akhir nya menghasilkan suatu informasi yang pada akhirnya menghasilkan suatu informasi yang tepat dan rinci.

Cara kerja metode ilmiah yang mana pun pastilah melakukan analisis dan sistesis dengan peralatan pemikiran induktif dan deduktif. Analisis artinya memisah-misahkan dari suatu keseluruhan ke dalam bagian-bagian, komponen-komponen sehingga membentuk keseluruhan.

c. Sistem ilmu pengetahuan

Sistem berati menunjukan adanya saling hubungan anatara satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini berarti bahwa pengetahuan-pengetahuan yang terkandung didalamnya harus saling berhubungan anatar satu dengan yang lainnya secara fungsional dalam satu sistem.

Dapat dikatakan bahwa fungsi sistem pengetahuan adalah mutlak adanya. Suatu sistem berfungsi aktif, yaitu menggerakkkan dan mengarahkan langkah-langkah yang telah ditentukan di dalam metode agar daya kerja itu konsisten.

d. Kebenaran ilmiah

Kebenaran ilmiah maksudnya suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran selalu dihubungkan dengan pengetahuan manusia (subjek yang mengetahui) mengenai objek. Jadi kebenaran itu tergantung dari seberapa subjek mengetahui pengetahuan tentang objek. Pengetahuan berasal mula dari banyak sumber. Sumber tersebut berfungsi sebagai ukuran kebenaran.

Kebenaran menurut Maufur (2008:83) merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh filsafat maupun ilmu pegetahuan .

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang ditulis oleh Purwadinata menjelaskan bahwa kebenarana itu adalah :

1).      Keadaan (hal dan sebgainya) yang benar (cocok dengan hal atau kedaan yang sesungguhnya), misalnya kebenaran berita ini masih saya diragukan, kita harus berani membela kebenaran dan keadilan;

2).      Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya, dan sebagainya),kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama;

3).      Kejujuran, kelurusan hati, misalnya tidak ada seorang pun sanksi akan kebaikan dan kebenaran hatimu

4).      Selalu izin, perkenanan, misalnya dengan kebenaran yang dipertuan

5).      Jalan kebetulan, misalnya penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran saja.

Ada beberapa rumusan kebenaran menurut Michael Williams yaitu :

  1. Kebenaran koherensi. Menurut teori ini sautu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan tersebut koheren dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya dianggap benar. dengan kata lain, suatu proposisi itu dianggap benar jika mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposi yang telah ada dan benar adanya.
  2. Kebenaran korespodensi. Menurut teori ini suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung perrnyataan itu berkorespodensi (berhuungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Kebenaran itu adalah kesesuaian dengan fakta, keselarasan dengan realitas, dan keserasian dengan situasi aktual.
  3. Kebenaran pragmatis. Kebenaran dalam metode ini diukur menggunakan kriteria fungsional. Jika pernyataan itu benar bila pernyataan tersebut memiliki fungsu atau kegunaan.
  4. Kebenaran performatif. Menurut teori ini suatu pernyataan kebenaran bukanlah kualitas atau sifat sesuatu, tetapi sebuah tindakan (performatif).
  5. Kebenaran proposisi. Suatu pernyataan dianggap benar bila sesuai dengan persyaratan meteril suatu preposisi, bukan pada syarat formal proposisi. Dalam sumber lain menambahkan dengan bentuk kebenaran sintaksis. Kebenaran sintaksis adalah kebenaran yang mengacu peda keteraturan sintaksi atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya.

Pranaka mengelompokan kebenaran ini dalam tiga jenis kebenaran yaitu :

1). Kebenaran empiris, yaitu kebenaran yang sudah biasa digunkan oleh para ilmuan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis untuk menerima atau menolak sesuatu sebagai kebenaran

2). Kebenaran logis, yaitu kebenaran yang masuk akal yang dapat diterim oleh orang banyak, dimana kebenaran tersebut merupakan pernyataan hipotesis yang secata logis atau matematis sejalan dengan pernyataan yang telah diketahui sebagai suatu kebenaran.

3). Kebenaran etis, adalah kebenaran yang diukur dengan standar nilai atau moral tertentu.

4). Kebenaran metafisis, yang merupakan kebenaran yang sesuai dengan kepercayaan dasar.

Dalam kebenaran diatas perlu disampaikan bahwa ukuran kebenaran dalam filsafat bersifat logis tidak empiris atau logis dan logis saja, maka kebenarannya adalah logis tidaknya pengetahuan itu.

Logis tidaknya filsafat akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan atau teori tersebut. Fungsi ergumen sangar penting, sama pentingnya fungsu data pada ilmu pengetahuan. Karena  argumen akan menjadi kesatuan dengan konklusi, konklusi itulah yang disebut dengan teori filsafat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s