Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah

 MASA KHULAFAUR ROSYIDIN

Secara umum periode Khulafaur Rasyidin (pemimpin yang tercerahkan) dikenal sebagai periode yang sangat penting bagi kelangsungan hidup umat Islam. Penting karena pada periode ini terjadi perisiwa-peristiwa theologis dan politik yang sangat berpengaruh bagi eksistensi Islam. Dalam sisi theologis berkembang satu persepsi tentang berakhirnya masa kenabian Muhammad dan juga ajarannya, dengan demikian fungsi kenabian Muhammad tidak dapat digantikan oleh siapapun, sedangkan ajarannya dapat dikembangkan terus menerus sepanjang jaman, termasuk didalamnya adalah fungsi kepemimpinan politiknya.

Zaman Khulafaur Rosyidin terdiri dari 4 Khalifah yaitu :

Abu Bakar Ash Shidiq

Naiknya Abu Bakar ke puncak pimpinan politik umat Islam diwarnai dengan kedukaan yang luar biasa, dengan meninggalnya Rasulullah. Oleh sebab itu proses politik terpilihnya Abu Bakar tidak banyak diketahui, dan ini kemudian menimbulkan ketidakpuasan Politik di-kalangan umat Islam, namun ketidak puasan tersebut tidak banyak menimbulkan permasalah-an. Permasalahan yang berkembang pada masa kepemimpinan Abu Bakar adalah :

1. Politik

Adanya konflik-konflik politik antara umat Islam, yang kemudian melahirkan sekte-sekte politik dikalangan umat.

  • Sekte-sekte politik tersebut kemudian diikuti tindakan pengingkaran sebagian umat Islam yang menolak kepemimpinan Abu Bakar terseubut diwujudkan dengan pe-nolakan mereka terhadap kewajiban Zakat.
  • Di samping memerangi mereka yang membangkang, Abu Bakar juga mengirim pasukan untuk menaklukan negara lain seperti Syiria, Parsi dan Mesir.

2. Theologis dan Hukum

  • Penolakan terhadap kewajiban Zakat melahirkan problem theologis dan hukum baru, yang intinya apakah mereka telah termasuk dalam spektrum Murtad dan wajib di-perangi atau tidak.
  • Berkembang sikap yang berlebihan dalam menyikapi peristiwa meninggalnya Rasul dengan menyatakan diri sebagai pengganti Kerasulullah Muhammad (Nabi Palsu).
  • Meluasnya wilayah geografis umat Islam, yang diikuti dengan bertambahnya jumlah umat, dengan latar belakang yang berbeda, melahirkan permasalahan hukum baru.

Peristiwa theologis dan hukum, terutama yang menyangkut penolakan kewajiban Zakat dan permakluman sebagai Nabi Palsu menyebabkan ketegangan politik. Ketegangan politik tersebut menyebabkan para Shahabat berketatapan untuk memberantas orang-orang yang me-nolak Zakat dan mengaku sebagai Nabi palsu, maka terjadilah pertempuran di Yamamah, yang menyebabkan umat Islam banyak yang menjadi Syuhada’ terutama para Hafidz. Peristiwa pertempuran Yamamah menyebabkan kekhawatiran umat terutama terhadap kelang-sungan dan keberadaan al Qur’an. Untuk mengatasi hal-hal yang mungkin lebih buruk, maka dilakukan proses pengumpulan naskah al Qur’an, atas usulan Umar bin Khattab.
Perluasan daerah yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah berusahan untuk menguasai Syiria dan Persia, untuk itu diutus 4 panglima perang yaitu Yazid bin Abu Sofyan (Damaskus), Abu Ubaidah bin Jarrah (di Hmos), Amru Bin Ash (Palestina) dan Surahbil bin Hasanah (Yordania), namun di tengah berkecamuknya perang melawan

Romawi tersebut, Kholifah Abu Bakar meninggal dunia (Th 13 H.)

Umar bin Khattab

Dalam salah satu do’anya, Rasulullah pernah memohon agar Allah menegakkan agama Islam dengan salah satu dari dua Umar. Permohonan tersebut, memberikan nuansa keter-gantungan kepada sosok Umar. Kenyataan menunjukkan bahwa Umar mempunyai kapasitas dan aksebilitas yang tinggi untuk membawa kemajuan Islam. Figur Umar menjadi jaminan keamanan dan kemantapan Islam, terutama pada awal perkembangannya, karena kebe-raniannya, kecerdasan dan ketegasan dalam memimpin umat Islam yang baru berkembang dan rawan perpecahan.
Prestasi monomental telah dihasilkan oleh Umar, terutama dalam memperbaiki kinerja birokrasi dalam hubungannya dengan rakyat’ dalam hal kepentingan politik dan perlakuan hukum. Prinsip egaliter sebagai salah satu nilai dasar ajaran Islam, menjadi kerangka dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Ber-dasarkan konsep-konsep tersebut, struktur dan nilai kehidupan yang dikembangkan adalah konsep hidup yang humanis dan demokratis. Tidaklah heran, jika dalam suatu kesempatan ia sempat diprotes oleh masyarakat karena perlakuan hukum/politik yang dianggap tidak adil.

Dalam aspek theologis, tidak banyak timbul permasalahan setelah kelompok orang yang menolak kewajiban Zakat dan Nabi Palsu di berantas pada masa Abu Bakar as Shidiq, akan tetapi timbul permasalahan baru dalam bidang theologis yaitu kemungkinan masuknya sistem theologi lain dalam ajaran sistem lain, mengingat semakin meluasnya wilayah Islam dengan latar belakang budaya nilai keagamaan yang berbeda. Sedangkan dalam aspek yang lain dapat di lihat pada paparan berikut.
1. Politik

  • Semakin mantapnya kehidupan politik yang demokratis yang ditandai dengan lancarnya komunikasi politik baik vertikal maupun horizontal.
  • Terjadinya perluas wilayah kekuasaan Islam, yang meliputi wilayah Jazirah Arab, Parsi, Syiria dan Mesir. Dengan demikian wilayah kerajaan Klasik yang mempunyai tradisi dan kebudayaan tinggi, menjadi sumber kebanggaan Islam.
  • Berkembangnya lembaga dan organisasi politik yang ternyata memberikan dampak positif bagi perkembangan politik umat, terutama dengan adanya Ahlul Halli wa al Aqdi (DPR).
  • Terjadinya pelembagaam organisasi kenegaraan (birokrasi) yang dapat mendukung kinerja kepemimpinan Umar bin Khattab.
  • Pembagian wilayah negara menjadi dua pemerintahan, yaitu : Pemerintahan pusat (Sentralisasi) yang dikepala oleh seorang Kholifah Dan pemerintahan daerah (Desentralisasi) yang dipimpin oleh seorang Wali atau Gubernur.
  • Pembentukan organisasi-organisasi kenegaraan, misalnya Baitul Mal (Badan Keuangan Negara), Badan pemeriksa keuangan dan Jizyah, Departemen kehakiman (Dewan Qodhi pusat dan daerah), Organisasi/Lembaga ketentaraan (Katib al Jund), Organisasi/Lembaga kepolisian (Katib al Syurthah)

2. Pemikiran Islam dan Hukum

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, Umar adalah seorang yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang baik, maka pada masa Umar perkembangan pemikiran dan Hukum Islam sangat baik. Di antara contoh tradisi berfikir tersebut adalah :

  • Berkembangnya tradisi berfikir rasional, yang kemudian disebut dengan Ijtihad. Metode berfikir bebas yang pertama kali berkembang tersebut adalah Ra’yi (pendapat pribadi) yang sering dikemukakan oleh Umar bin Khattab
  • Terjadinya rasionalisasi ajaran Islam, terutama pada pokok ajaran yang mengan-dung makna ideal dan moral (ajaran yang mengandung makna ideal). Ketentuan hukum dan nilai religiusitasnya tidak dipahami sebagaimana teks (bunyi) hukumnya atau ketetapan legalnya, melainkan lebih mengarah pada pemahaman gagasan dan ide yang terkandung di dalamnya, misalnya :
  1. Pembatalan hukuman potong bagi pencuri yang kelaparan dan yang mengambil hak dari tuan yang mempekerjakannya
  2. Pembatalan pembagian harta rampasan bagi pelaku peperangan dan mendaya gunakannya sebagai alat produksi dan pendapatan negara, setelah dibentuk organisasi ketentaraan dan mereka mendapat gaji dari negara.
  3. Umar bin Khattab meninggal ole Fairuz budak dari Mughiroh bin Syibah – budak tersebut amat dendam kepada Umar, karena Umar lah yang menyebabkan Persia hancur.

 

Utsman bin Affan

Utsman bin Affan adalah salah satu Shahabat Rasulullah yang mempunyai kelebihan fi

nansial. Ia dikenal sebagai Shahabat yang memiliki kemampuan bisnis dengan memanfaat-kan peluang-peluang yang ada. Maka tidaklah berlebihan jika disebut sebagai seorang kong-lemerat Islam zaman Rasulullah. Utsman naik kepuncak kepemimpinan Islam bersamaan dengan makin besarnya interest dan konflik politik dikalangan umat Islam. Melihat hal ter-sebut, ketika Umar akan meninggal dunia, ia memberikan 6 figur yang dianggapnya repre-sentatif menggantikan dirinya seteleh dilakukan pemilihan nanti, di antaranya adalah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib. Jatuhlah pilihan tersebut pada Utsman bin Affan, dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1. Umat Islam menganggap Utsman lebih Tua dan lunak dalam mengelola pemerintahan
2. Umat Islam trauma dengan cara Umar memerintah yang keras dan disiplin, dan nampak-nya sifat-sifat tersebut ada pada Ali bin Abi Thalib.

Secara umum, sedikit prestasi yang dapat kita temukan pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, apabila dibandingkan dengan masa pemerintahan Umar bin Khattab. Hal tersebut boleh jadi disebabkan oleh kondisi politik dan masa kekhalifaan Utsman bin Affan yang hanya sekitar 6 tahun. Walaupun demikian terdapat hal-hal yang menarik untuk dikemuka-kan sebagai hasil karya gemilang kekhalifaan Utsman bin Affan, yaitu :

1. Di lanjutkkannya proses pembukukan al Qur’an, setelah dilakukan gerakan pengumpulan naskahnya pada masa Abu Bakar Ash Shidiq, dalam satu musyhaf induk yang disebut dengan “Musyhaf Utsmani”. Musyhaf tersebut dicetak sebanyak 8 Examplar dan ke-mudian disebar ke kota-kota besar Islam. Program ini dilakukan dalam rangka :

  • Menyelematkan naskah dan sumber ajaran Islam dari kerusakan, pemalsuan dan prilaku negatif lainnya.
  • Menyatukan tulisan dan bacaan al Qur’an (yang diakui bacaannya sebanyak 7 bacaan), yang selama ini menjadi salah satu sumber konflik keagamaan umat Islam.
  • Menghapus seluruh naskah yang dimiliki oleh umat Islam dan hanya mengakui bacaan, bentuk dan tulisan dari musyhaf Utsmani.

2. Pembangunan kekuatan armada militer ummat Islam, dengan memanfaatkan Syiria sebagai pangkalan militer

3. Perluasan daerah meliputi Daerah Persia, Azerbeizan, Armenia, Asia Kecill, Pesisir laut Hitam, Cyprus dan Afrika Utara (Tunisia, Marokko dan Al Jajair).

3. Sedangkan perkembangan perpolitikan uamt, berkembang satu kecenderungan yang berbeda dengan praktek politik pada masa Rasulullah dan dua khalifah sebelumnya, yaitu teerjadinya budaya Nepotisme dan pemborosan uang negara. Nepotisme adalah pengangkatan orang dekat, keluarga dan suku mereka sendiri. Lebih lanjut, perubahan visi politik Utsman adalah sebagai berikut :

  • · Memberikan penghargaan yang lebih tinggi kepada pelaku politik yang berasal dari keluarga atau suku mereka. Konsep politik tersebut sekarang dikenal dengan Nepotisme. Dan ingat prilaku politik seperti itu tidak ada dalam ajaran Islam.
    · Menciptakan poros kekuasaan dengan meletakkan wilayah Syiria (Damaskus) yang di-pimpin oleh Muawiyah bin Abu Sofyan sebagai representasi pemikiran dan perlakuan politik.

Para ahli sejarah memperkirakan sebab perubahan visi politik Utsman bin Affan dari demokratis menjadi nepotisme disebabkan oleh ketidakmampuan Utsman merangkul seluruh komponen umat Islam, terutama pada umat Islam yang kontra dengan kebijakan Utsman yang sangat lemah dan tidak berwibawa dibandingkan dengan Umar. Lemahnya dukungan dari umat Islam, terutama shahabat yang terpilih, menyebabkan Utsman berpaling kepada anggota keluarganya dan praktek politik nepotis seperti itu melahirkan gejolak politik yang baru, mendorong penguatan opoisi dan penentangan terhadap Utsman.

Lebih lanjut, perlakuan politik tersebut mendorong lahirnya intrik politik dan kecurigaan yang tidak terselesaikan antara umat Islam. Pada perkembangan berikutnya lahirlah rekayasa untuk menghancurkan lawan atau yang disebut dengan konspirasi politik, baik oleh pihak penguasa maupun mereka yang tidak suka dengan keputusan politik penguasa. Puncak dari konspirasi politik tersebut adalah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, yang pada giliran-nya menjadi pemicu pergantian (suksesi) kepemimpian yang tidak mulus dan barangkali tidak di sadari adalah mengendapnya dendam politik para elit politik umat Islam, yang se-waktu-waktu meletus dan menghanguskan integritas umat Islam secara keseluruhan. Sekali lagi peristiwa pembunuhan Utsman menjadi bara politik yang terus merenggut korban politik umat Islam berikutnya, termasuk Ali bin Abi Thalib.

 

Ali bin Abi Thalib

Siapapun tahu siapa Ali bin Abi Thalib, seorang yang sejak muda telah bergelut dengan perjuangan menegakkan Islam. Ia adalah Saifullah yang tidak pernah absen dalam mengikuti peperangan membela agama Allah, ketika ia menjadi tumbal kebenaran dengan mengganti tempat tidur Rasulullah. Ia adalah menantu tersayang dari Rasulullah, yang hidup dan prilaku mirip Rasulullah, ia adalah ahlul bait yang berusahan membersihkan dari perbuatan dosa. Namun nasib Ali bin Abi Thalib tidak lebih baik dari Utsman bin Affan, ia meninggal dunia karena konspirasi politik yang sangat tidak manusiawi. Akhirnya dalam catatan sejarah keluarga Umaiyah, Ali bin Abi Thalib adalah sebuah kotoran yang harus dibersihkan dari baju dan kemeja kesombongan Bani Umaiyah.

Ali bin Abi Thalib menggantikan kedudukan Utsman bin Affan dalam situasi politik yang sangat tegang, menyusul kematian Utsman bin Affan dalam sebuah tragedi politik yang me-milukan. Tragedi politik tersebut memperkuat kelompok politik dengan kepentingan politik yang berbeda, misalnya :

  1. Kelompok pro Utsman, yang menyatakan bahwa pelaku pembunuhan Utsman adalah ke-lompok Ali bin Abi Tholib. Kelompok ini dipelopori oleh Muawiyah.
  2. Kelompok Ali yang merasa tidak mempunyai kaitan dengan persekongkolan pembunuh-an Utsman bin Affan.
  3. Kelompok pro Aisyah dan Zubair, yang keduanya tidak suka dengan naiknya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Perseteruan politik tersebut melahirkan ketegangan politik, yang berujung dengan pe-perangan, misalnya peperangan “Berunta” (Ali dengan Aisyah). Peperangan Hijaz antara Ali dengan Zuber, dan yang paling menggemparkan adalah peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan (Perang Siffin). Peperangan antara Zubair bin Awwam dengan Ali, dalam perspektif sejarah sangat sulit ditentukan oleh sebab-sebabnya, apakah Zubaer melakukannya karena membela Utsman atau karena kepentingan politik pribadi, ter-masuk di dalamnya dengan Aisyah (mertua Ali). Aisyah sendiri merasa tida puas atas kema-tian Utsman dan ingin menuntut balas pada Ali bin Abi Thalib.

Peperangan terakhir (Ali dengan Muawiyah), hampir-hampir dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib, jika bukan karena kelihaian Amr bin Ash yang mengangkat al Qur’an. Aksi Amru tersebut telah memaksa Ali untuk menyelesaikan konflik di meja perundingan (Majlis Tahkim) yang hasilnya justru membawa Ali pada posisi yang sangat lemah, kalau tidak boleh dikatakan sebagai satu kekalahan Ali dari Muawiyah.
Peristiwa Majlis Tahkim tersebut mampu membawa pada situasi Colling Down (penurunan suhu) politik dikalangan umat Islam, yang kemudian dikenal dengan “Amul Jama’ah”. Namun peristiwa-peristiwa politik yang lain telah membuyarkan Amul Jama’ah menjadi api konflik yang membuat umat memendam dendam yang tida henti-hentinya, ter-utama ketika mereka mengingat peristiwa Majlis Tahkim. Ada tiga kelompok politik pasca Majlis Tahkim, yaitu :

  1. Kelompok Muawiyah bin Abu Sofyan, yang diuntungkan dalam majlis Tahkim dan merasa menjadi penguasa politik yang baru, dengan pusat pemerintahan di Damskus.
  2. Kelompok Ali bin Abi Thalib yang telah diperdaya oleh petualang politik dalam majlis tahkim. Kelompok ini disebut dengan “Syiah”
  3. Kelompok orang yang tidak puas dengan Ali dan Muawiyah, kelompok ini disebut dengan Khawarij. Kelompok ini beranggapan bahwa orang yang terlibat dalam Majlis Tahkim telah keluar dari Islam dan harus dihukum bunuh.
    Maka disusunlah konspirasi politik untuk membunuh mereka, diantara orang yang masuk dalam target operasi (TO) pembunuhan oleh kelompok Khawarij adalah Ali bin Abi Thalib, Muawiya bin Abu Sofyan dan Amru bin Ash. Ketiga orang tersebut menurut mereka adalah tokoh-tokoh Majlis Tahkim, dan yang berhasil mereka bunuh adalah Ali bin Abi Thalib, maka dengan meninggalnya Ali bin Abi Thalib, penguasaan politik umat Islam beralih ke Muawiyah bin Abi Sofyan, yang memindahkan pusat kekuasaannya dari Madinah ke Damaskus Syiria.

 

BANI UMAYYAH

Sebagai khalifah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah sehingga kekhalifahan dipegang oleh Bani Umayyah dengan nantinya setelah Mu’awiyah meninggal, pemerintahan akan dikembalikan kepada umat islam. Akan tetapi, perjanjian ini tidak pernah diwujudkan dan dengan diangkatnya Mu’awiyah sebagai khalifah, berdirilah Kerajaan Bani Umayyah. Pendiri Kerajaan Umayyah adalah Mu’awiyah bin abu Sufyan.

Nama Umayyah merupakan nama kakek kedua dari Mu’awiyah yang bernama Umayyah bin Abdus Syam. Pergantian kepemimpinan Kerajaan Umayyah berdasarkan keturunan. Hal ini berbeda dengan zaman Khulafaur Rasyidin yang dipilih langsung rakyat.

 

Perjalanan Kerajaan Umayyah

Daulah Umayyah memegang tampuk kekhalifahan selama dua periode, di Suriah hampir satu abad, yaitu sejak 30-132 H atau 660-750 M dan di Spanyol selama 275 tahun, yaitu 756-1031 M. Perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Daulah Umayyah telah memasuki benua Eropa bahkan telah mencapai wilayah Byzantium.

Pada masa pemerintahan Mu’awiyah dilakukan berbagai perubahan dalam pemerintahan. Mengingat berbagai pengamalannya yang pernah menjadi Gubernur di Syam, Mu’awiyah melakukan perubahan pemerintahan, yaitu membentuk jawatan perhubungan (jawatan pos) dan jawatan pendaftaran. Mu’awiyah menduduki jabatan sebagai Khalifah selama hampir 20 tahun.

Para Khalifah pada masa Bani Umayyah, antara lain: Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Mu’awiyah, Mu’awiyah binYazid, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan, AL-Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Azis, Yazid bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik.

Sepeninggal Mu’awiyah, pemerintahan dipegang oleh Yazid bin Mu’awiyah. Pada masa pemerintahannya, prinsip musyawarah yang telah dicanangkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin mulai bergeser ke bentuk monarki absolut.

Artinya, pemimpin merupakan raja yang diangkat secara turun-temurun. Akan tetapi, raja-rajanya masih menggunakan gelar khalifah. pemerintahan Yazid diwarnai oleh berbagai pergolakan politik. Hal ini semakin memuncak setelah terbunuhnya cucu Rasulullah SAW, yaitu Husain bin Ali.

Setelah Yazid wafat, pemerintahan digantikan oleh Mu’awiyah II. Namun, Mu’awiyah II tidak sanggup memerintah dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Marwan bin Hakam. Akan tetapi, Marwan hanya memerintah selama 9 bulan dan mengundurkan diri karena tidak bisa menghadapi pergolakan politik yang terjadi, sampai akhirnya suasana kerajaan bisa dipulihkan setelah Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah.

Masa kejayaan Bani Umayyah dimulai ketika Abdul Malik bin Marwan memerintah 66-86 H Atau 685-705 M. Berbagai kemajuan dilakukan Abdul Malik , diantaranya:

  1. Menetapkan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi.
  2. Mendirikan Balai kesehatan untuk rakyat.
  3. Mendirikan Masjid di Damaskus.

Kejayaan Kerajaan Umayyah semakin menonjol setelah diperintahkan Al-Walid bin AbdulMalik, yaitu tahun 86-96 H atau 705-715 M. Pada masanya, kerajaan Umayyah mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam sampai ke India, Afrika Utara, hingga Maroko, dan Andalusia. Pada masa ini perluasan wilayah Islam meliputi sebagai berikut:

  1. Wilayah kekuasaan Kerajaan Romawi di Asia Kecil meliputi Ibukota Konstantinopel serta perluasan ke beberapa pulau di Laut Tengah.
  2. Wilayah Afrika Utara sampai ke pantai Atlantik dan menyeberangi selat Jabal tarik (Selat Gibraltar).
  3. Wilayah Timur, Bagian Utara di seberang sungai Jihun (Amru Daria).

Ketika kekuasaan Islam berada di tangan kerajaan Bani Umayyah, seni bangunan, misalnya bangunan Qubatus Sarkah di Yerussalem dan bangunan Masjid Nabawiyah di Madinah dapat mencapai ketinggian melampaui batas seni bangun Gothik di Eropa. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan pun tidak ketinggalan. Misalnya, bidang–bidang kedokteran, filsafat, kimia, astronomi, dan ilmu ukur berkembang dengan sangat pesat.

 

Keruntuhan Kerajaan Umayyah

Masa kejayaan Bani Umayyah mulai menurun. Ada beberapa kelemahan yang menjadi suramnya kekuasaan Bani Umayyah, di antaranya:

  1. Mulai hilangnya persatuan Islam yang dibina sejak zaman Rasulullah.
  2. Orang mulai mementingkan dunia dan mengabaikan urusan agama
  3. Menghilangnya demokrasi Islam dan mulainya penggunaan Monarki absolutd.
  4. Adanya pemberontakan dari Kaum Hawarij, Syiah dan Bani Abbas.

Khalifah terakhir dari Bani Umayyah bernama Marwan bin Muhammad. Ia tidak mampu lagi menghadapi gerakan perlawanan dari Bani Abbas. Pada 5 Agustus 750 M, Marwan bin Muhammad terbunuh oleh Shalih Bin Ali.

Penyebaran Islam pada kekhalifahan Bani Umayyah meliputi wilayah Asia Kecil, yaitu kerajaan Romawi (Konstantinopel), Asia Utara sampai ke wilayah Spanyol, dan Selat Jabal Tarik, hingga mencapai Asia Tengah sampai perbatasan Tiongkok (China).

Hal penting yang dicapai pada masa Bani Umayyah, yaitu:

a. Menetapkan Bahasa Arab sebagai Bahasa resmi;

b. Mendirikan masjid Agung di Damaskus;

c. Membuat mata uang bertuliskan kalimat syahadat;

d. Mendirikan rumah sakit di berbagai wilayah;

e. Menyempurnakan peraturan pemerintah;

f. Melakukan pembukuan Hadits Nabi

Pada masa Daulah Bani Umayyah perkembangan kebudayaan mengalami kemajuan dan juga bidang seni, terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa, dan seni bangunan (Arsitektur).

Seni Bahasa

Kemajuan seni bahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan bahasa. Sedangkan kemajuan bahasa mengikuti kemajuan bangsa. Pada masa Daulah Bani Umayyah kaum muslimin sudah mencapai kemajuan dalam berbagai bidang, yaitu bidang politik, ekonomi, sosial, dan ilmu pengetahuan. Dengan sendirinya kosakata bahasa menjadi bertambah dengan kata-kata dan istilah –istilah baru yang tidak terdapat pada zaman sebelumnya.

Seni Rupa

Seni rupa yang berkembang pada zaman Daulah Bani Umayyah hanyalah seni ukir, seni pahat, sama halnya dengan zaman permulaan, seni ukir yang berkembang pesat pada zaman itu ialah penggunaan khat arab (kaligrafi) sebagai motif ukiran.

Yang terkenal dan maju ialah seni ukir di dinding tembok. Banyak Al-Qur’an, Hadits Nabi dan rangkuman syair yang di pahat dan diukir pada tembok dinding bangunan masjid, istana dan gedung-gedung.

Seni Suara

Perkembangan seni suara pada zaman pemerintahan Daulat Bani Umayyah yang terpenting ialah Qira’atul Qur’an, Qasidah, Musik dan lagu-lagu lainnya yang bertema cinta kasih.

Seni Bangunan (Arsitektur)

Seni bangunan atau Arsitektur pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah pada umumnya masih berpusat pada seni bangunan sipil, seperti bangunan kota Damaskus, kota Kairuwan, kota Al- Zahra. Adapun seni bangunan agama antara lain bangunan Masjid Damaskus dan Masjid Kairuwan, begitu juga seni bangunan yang terdapat pada benteng- benteng pertahanan masa itu.

Adapun kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, berkembangnya dilakukan dengan jalan memberikan dorongan atau motivasi dari para khalifah. Para khalifah selaku memberikan hadiah-hadiah cukup besar bagi para ulama, ilmuwan serta para seniman yang berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan di sediakan anggaran oleh negara, itulah sebabnya ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya.

Pusat penyebaran ilmu pengetahuan pada masa itu terdapat di masjid-masjid. Di masjid-masjid itulah terdapat kelompok belajar dengan masing-masing gurunya yang mengajar ilmu pengetahuan agama dan umum ilmu pengetahuan agama yang berkembang pada saat itu antara lain ialah, ilmu Qira’at, Tafsir, Hadits Fiqih, Nahwu, Balaqhah dan lain-lain. Ilmu tafsir pada masa itu belum mengalami perkembangan pesat sebagaimana yang terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah. Tafsir berkembang dari lisan ke lisan sampai akhirnya tertulis. Ahli tafsir yang pertama pada masa itu ialah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi yang sekaligus juga paman Nabi yang terkenal.

Untuk perkembangan ilmu Hadits sendiri terjadi setelah ditemukan banyak penyimpangan dan penyelewengan dalam meriwayatkan hadits atau setelah diketahui banyaknya hadits-hadits palsu yang dibuat oleh kelompok tertentu untuk kepentingan politik.

Karena itulah dirasakan adanya keperluan untuk menyusun buku hadits. Di antara para ahli Hadits (Muhaddits) yang terkenal masa itu ialah Muhammad bin Syihab A-Zuhri, beliau pula yang mula-mula menyusun ilmu hadits dan mula-mula membukukan perkataan, perbuatan, ketepatan ataupun sifat-sifat Nabi SAW yang disebut dengan hadits itu.

 

BANI ABBASIYAH

Perkembangan Pada Masa Bani Abbasiyah

Daulah Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H / 750 M, Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Dinamakan Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini merupakan keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah di samping bercorak Arab murni, juga terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Msir, dan sebagainya. Juga dinasti Abbasiyah ini system politiknya lebih bersifat demokratis dari pada dinasti Umayyah yang Orientalis.

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M), dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji membayar upeti. Pada masa dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam sangat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijjaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan. Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian Barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah Barat.

  1. Kemajuan-Kemajuan dan Perkembangan yang Dicapai

Secara garis besar ada 2 faktor penyebab tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam ajaran Islam bahwa ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, memiliki kekuatan yang luar biasa yang mampu memberikan motifasi bagi para pemeluknya untuk mengembangkan peradabannya.

Sedangkan faktor eksternalnya, yaitu ajaran yang merupakan proses sejarah umat Islam di dalam kehidupannya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran Islam. Faktor penyebab tersebut adalah semangat Islam, perkembangan organisasi ketatanegaraan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan Islam.

  1. Bentuk-Bentuk Peradaban Islam  dan Tokoh-Tokohnya
  2. Kota-Kota Pusat Peradaban

1)   Kota Baghdad, merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (754 – 775 M) pada tahun 762 M. kota ini terletak di tepian sungai Tigris. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786 – 809 M), dan anaknya Al-Makmun (813 – 833M).

2)   Kota Samarra, letaknya di sebelah timur sungai Tigris yang berjarak lebih kurang 60 km dari kota Baghdad. Di kota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.7

  1. Bangunan Tempat Pendidikan dan Tempat Peribadatan

1)   Madrasah. Ada banyak madrasah, madrasah yang terkenal pada zaman itu adalah Nizamiyyah, yang didirikan oleh Nizam Al-Mulk, seorang perdana menteri pada tahun 456 – 486 H. Madrasah ini terdapat di banyak kota, antara lain di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara, dan Musol.

2)   Kuttab, yaitu sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah.

3)   Majlis Muhadharah sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan.

4)   Darul-Hikmah sebagai perpustakaan.

5)   Masjid-masjid sebagai tempat beribadah dan sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takahsush. Di antara masjid yang terkenal adalah masjid Cordova, masjid Ibnu Touloun, masjid Al-Azhar, dan sebagainya.

  1. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Tokoh-Tokohnya

1)   Filsafat, para tokoh filosuf pada masa itu adalah : Abu Ishak Al- Kindi, Abu Nashr Al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusydi.

2)   Ilmu Kedokteran : Abu Zakaria Yuhana bin Masiwaih, Sabur bin Sahal, Abu Zakaria Ar-Razy, dan Ibnu Sina.

3)   Matematika, ahli matematika Islam yang terkenal ialah Al- Khawarizmi, seorang yang menemukan angka nol (0), sedangkan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0, disebut juga “Angka Arab”.

4)   Farmasi dan Kimia, di antara para ahli farmasi dan kimia padamasa pemerintahan dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar.

5)   Ilmu Perbintangan : Abu Mansur Al-Falaky, Jabir Al-Batany, dan Rayhan Al-Bairuny.

6)   Ilmu Tafsir (Tafsir Al-Ma’tsur : Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu ‘Athiyah Al-Andalusy, As-Sudai, Muqatil bin Sulaiman; dan Tafsir bir-Ra’yi : Abu Bakar Asam, Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahany, dan Abu Yunus Abdussalam).

7)   Ilmu Hadits : Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abi Al-Hasan Al-Bukhari (Imam Bukhari), Imam Abu Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qushairy An-Naishbury (Imam Muslim), Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasa’i.

8)   Ilmu Kalam, di antara aliran ilmu kalam yang berkembang adalah Jabariyah, Qadariyah Mu’tazilah, dan Asy’ariyah. Para pelopornya adalah Jahm bin Sofwan, Ghilan Al-Dimisyqi, Wasil bin ‘Atha’, Al-Asy’ari, dan Imam Ghazali.

9)   Ilmu Bahasa : Sibawaih, Al-Kisai, dan Abu Zakaria Al-Farra.

 

Kemunduran pada Masa Bani Abbasiyah

Ada dua faktor yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Abbasiyah, yaitu faktor Internal (dari dalam sendiri), dan faktor Eksternal (dari luar). Faktor internal diantaranya.

  1. 1.      Pertama, perebutan kekuasaan antar keluarga merupakan pemicu awal yang akhirnya berimplikasi panjang terhadap kehidupan khalifah selanjutnya, terutama suksesi setelah Harun ar-Rasyid. Perebutan antara al-Amien dan al-Ma’mun yang memicu perang sipil besar yang pada akhirnya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah dan control terhadap provinsi-provinsi di bawah kekuasaan Abbasiyah. Selanjutnya dari perebutan tersebut melahirkan orang-orang yang tidak kompeten, ditambah lagi terjadi pemisahan antrara agama dan politik. Akibatnya terjadi penyalahgunaan kekuasaan dengan cara hidup dalam kemewahan dan pesta pora di Istana karena agama tidak lagi menjadi pengawas. Seperti al-Mutawakkil memiliki 4000 orang selir semuanya pernah tidur seranjang dengan dia. Khalifah al-Mutazz (Khalifah ke-13) menggunakan pelana emas dan baju berhiaskan emas.

Kemudian menurut Abu A’la al-Maududi ketika konsep khalifah digantikan dengan sistem kerajaan maka tiada ada lagi keahlian kepemimpinan yang mencakup segalanya baik dalam politik maupun agama. Sehingga keberhasilan raja-raja tidak mendapatkan penghargaan dan kewibawaan moral di hati rakyat, walaupun mereka mampu menaklukan rakyat dengan kekuasaan dan kekuatan, dan mengeksploitasi mereka demi tujuan politisnya. Disinilah secara filosofis kelemahan mendasar dari sistem kerajaan. Selain itu secara Sosiologis system Kerajaan akan menciptakan paradigma berfikir peodalistik anti kritik, sehingga mudah sekali terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalamnya.

  1. 2.      Kedua, perpecahan di bidang akidah dan di bidang madzhab, yang masing-masing kelompok saling mengklaim paling benar, sehingga memunculkan sikap fanatisme berlebihan. Bahkan khalifah al-Ma’mun melancarakan gerakan pembasmian kepada orang-orang yang tidak mau tunduk kepada madzhab Mu’tazilah. Hal tersebut kemudian diikuti kembali oleh al-Mutawakkil yang membasmi terhadap golongan Mu’tazilah karena tidak mau tunduk kepada Ahlu Hadits. Terakhir, penguasaan Baitul Maal yang berlebihan akibatnya muncul justifikasi bahwa Baitul Maal adalah milik penguasa, bukan milik umat. Sehingga tidak seorang pun berhak meminta pertanggungjawaban mengenai dari mana uang itu berasal dan lari kemana uang itu kemudian. Hal ini memancing reaksi negative dari masyarakat, dan memunculkan rasa ketidakpuasan yang berujung kepada pemberontakan.

Masalah ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh Rasulullah Saw lewat sabdanya :“Semakin dekat seseorang pada kursi kekuasaan, semakin jauhlah dia dari Tuhan; semakin banyak jumlah pengikut yang dimilikinya, semakin jahatlah ia; semakin banyak kekayaan yang dipunyainya, semakin ketat pulalah perhitungannya.

Namun sangat disayangkan para penguasa Dinasti Abbasiyah semuanya terbuai dan lupa bahkan kepada Allah sendiri, hingga keruntuhan mereka. Kemudian faktor eksternal yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Abbasiyah adalah;

  1. Pertama, pemberontakan terus menerus yang dilakukan oleh kelompok Khawarij, Syi’ah, Murjiah, Ahlusunnah, dan bekas pendukung Dinasti Umayyah yang berpusat di Syiria menyebabkan penguasa Abbasiyah harus selalu membeli perwira pasukan dari Turki dan Persia. Konsekuensinya meningkat terus ketergantungan pada tentara bayaran dan ini pada gilirannya menguras kas Negara secara financial.
  2.  Kedua, memberikan kebaikan berlebihan kepada orang-orang Persia, dan Turki, berakibat mereka dapat menciptakan kerajaan sendiri seperti Thahiriyah di Khurasan, Shatariyah di Fars, Samaniyah di Ttansxania, Sajiyyah di Azerbaijan, Buwaihah di Baghdad semuanya dari bangsa Persia. Sedangkan kerajaan yang didirikan oleh orang-orang Turki adalah Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afghanistan. dan dilanjutkan muculnya Dinasti-Dinasti merdeka Umayyah di Andalusia, Fathimiyah di Afrika Utara, Idrisiyah di Maroko, Rustamiyah, Aghlabiyah, Ziriyyah, Hammadiyah di Jazirah dan Syiria, al-Murabitun, al-Muwahidun di Afrika Utara,Marwaniyah di Diyarbakar, dll.
  3. Ketiga, serangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulaqu Khan. Baghdad di bumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah al-Musta’sim dan keluarganya di bunuh, buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah di bakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut menjadi hitam kelam karena lunturan tinta dari buku-buku itu.

*note  : ini tugas yang saya ambil dari internet. mohon maaf saya lupa untuk mencopy sumber atau alamat web tersebut.

One thought on “Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s